Senin, 15 Agustus 2016

Harta Masih Bisa Dicari, Rumah Masih Bisa Dibangun, Tapi Pasangan Hidup Hanya Datang Sekali Saja


Sering orang berpikir bahwa sebuah pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang terjadi ketika suami dan istri sama-sama sudah mapan, memiliki pekerjaan dengan gaji yang menjanjikan, memiliki rumah yang berdiri di atas tanah sendiri, memiliki perencanaan masa depan yang matang, sudah memilih lokasi bulan madu, dan seterusnya. Wajar jika orang berpikir demikian, sebab membangun sebuah keluarga yang dibingkai oleh indahnya sebuah pernikahan merupakan hal yang tidaklah gampang. Untuk maju ke arena pernikahan saja harus ada berbagai tahapan yang harus dilalui, mulai dari pembicaraan keluarga, adat yang harus diselesaikan hingga resepsi nikah yang tentu menelan biaya tidak murah.

Namun, apakah orang sering berpikir bahwa cinta yang melandasi sebuah pernikahan justru tak memandang materi? Apakah orang sering berpikir bahwa tanpa ada rumah yang berdiri layaknya istana pun seseorang bisa menikahi dia yang dicintai? Kisah seorang Plato di bawah ini mungkin perlu disimak untuk sekedar melihat bahwa cinta itu tak bermateri.

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?” Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tak boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja ranting, dan saat berjalan aku tidak boleh mundur kembali. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kuberjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya.” Gurunya kemudian menjawab, “Jadi, ya itulah cinta.”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana aku bisa menemukannya?” Gurunya pun menjawab, “Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar atau subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?” Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi, dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya.” Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan.”

Bukahkah cinta yang melandasi pernikahan itu tak melihat harta yang demikian besar pengaruhnya? Bandingkan saja, jika pernikahan itu tak melihat cinta sebagai dasarnya, tetapi melihat kematangan harta sebagai ukurannya, tentu semua orang tak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ia akan berusaha mencari orang lain yang lebih matang, yang sudah ada persiapan, yang sudah kaya, yang sudah punya rumah sendiri, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa apa yang dimilikinya saat ini adalah yang terbaik. Pencariannya justru akan membawanya pada titik nol, dimana ia tidak memperoleh apa pun.

Di lain kisah, ketika seseorang menemukan pasangannya yang biasa-biasa saja, tak bermateri, tak memiliki sebidang tanah pun untuk dijadikan rumah, dan sebagainya, namun ia sungguh mencintai orang tersebut dan tetap memilih orang itu sebagai pasangan yang mendampinginya di sebuah pernikahan, maka ia telah mendapatkan apa yang ia cari. Apa pun yang belum dimiliki masih bisa diperjuangkan. Harta masih bisa dicari, rumah masih bisa dibangun, tapi pasangan hidup yang dimahkotai indahnya pernikahan hanya datang sekali saja. 
Share:  

0 komentar:

Posting Komentar