![]() |
| Ilustrasi |
Belakangan
ini kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang sebagian besar masih berada
di bawah umur merupakan salah satu kasus yang meningkat secara signifikan di
negara ini. Kasus-kasus kekerasan yang terjadi menyita perhatian bahkan
menimbulkan amarah serta kekecewaan publik. Di sisi lain, hal ini membuat
publik seolah tersadar bahwa perempuan di negara ini tengah diacam oleh para
pelaku yang tak bermoral. Mengapa tidak? Dalam tahun ini, Komnas Perempuan mencatat
bahwa kasus kekerasan seksual terhadap perempuan merupakan kasus yang berada di
peringkat kedua dari sekian banyak kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menyebutkan pelecehan dan
kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia meningkat 100% dari tahun-tahun sebelumnya.
Publik
pun kemudian dihantui oleh berbagai pertanyaan termasuk pertanyaan mengenai
latar belakang terjadinya berbagai hal tersebut dan solusi tepat untuk
mengatasinya. Ada beragam opini terhadap pertanyaan di atas. Sekretaris KPAI,
Rita Pranawati misalnya, berpendapat bahwa rendahnya pendidikan seksualitas di
kalangan keluarga menjadi faktor penyebab timbulnya berbagai kasus kekerasan
seksual (Liputan6.com, 4/4/2016). Apa pun itu faktornya, yang pasti bahwa
kekerasan seksual terhadap anak dan kaum perempuan tidak akan berhenti apabila
hanya menjadi bahan perbincangan semata. Perlu ada tindakan nyata, baik itu
dari keluarga, para tokoh masyarakat, pendidik, maupun pemerintah.
Pendidikan Seksualitas Komprehensif
Hingga
kini sebagian besar orang tua di Indonesia masih melihat seksualitas sebagai
hal yang tabu dan tidak layak untuk diperbincangkan. Anggapan ini menyebabkan
orang tua menjauhkan anaknya dari berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan
seksualitas komprehensif. Pola pikir ini juga secara tidak langsung menggiring
orang tua untuk lebih cenderung memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan
akademik anak ketimbang memperhatikan perkembangan emosi anak, karakter anak,
hubungan sosial anak, pertumbuhan badan anak dan berbagai hal lainnya.
Merujuk
pada hal di atas, perlu ada pemahaman bahwa pada dasarnya pendidikan seksualitas
komprehensif berbeda dengan seks yang lebih menjurus pada hubungan badan antara
pria dan wanita. Seksualitas komprehensif lebih berkaitan dengan aspek-aspek
anatomis dan biologis serta aspek-aspek psikologis dan moral anak. Seksualitas komprehensif
tidak hanya berhubungan dengan proses anak mengenal tubuh dan segala proses
reproduktifnya, tetapi juga berkaitan dengan proses mengenal dan mengolah berbagai
emosi yang ada dalam diri anak secara baik. Selain itu, pendidikan seksualitas komprehensif
juga lebih memperhatikan unsur-unsur hak asasi manusia, nilai-nilai kebudayaan
serta agama, sehingga pendidikan seksualitas tersebut mengarah pada pendidikan
akhlak dan moral. Tujuannya ialah agar anak dapat diarahkan pada satu pemahaman
mengenai penghargaan, bukan hanya penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi
juga penghargaan terhadap diri orang lain.
Pendidikan Seksulitas Komprehensif Berbasis Literasi
Bertolak
pada pemahaman mengenai pendidikan seksualitas komprehensif, orang tua harus
mampu meninggalkan pola pikir kuno sebab pada hakikatnya pendidikan seksualitas
komprehensif akan berlangsung di dalam keluarga apabila orang tua memiliki
kesadaran akan pentingya hal tersebut bagi tumbuh kembang anak. Di sisi lain,
hal ini dapat terlaksana apabila orang tua tidak menitipkan seluruh tanggung
jawab dalam proses pendidikan anak di tangan para guru di sekolah. Orang tua
perlu terlibat dalam proses pendidikan anak, termasuk pendidikan seksualitas
dengan meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak, mendengarkan curhatan
anak, memperhatikan pola pergaulan anak, dll.
Pendidikan
seksualitas komprehensif dalam keluarga sebenarnya tidak hanya dapat dilakukan
secara lisan oleh orang tua. Literasi (baca-tulis) merupakan salah satu dari sekian banyak cara yang dapat digunakan
untuk memberikan pendidikan seksualitas bagi anak. Sebagaimana dikemukakan oleh
Menteri Pendidikan Indonesia, Anies Baswedan, literasi merupakan sebuah gerakan
yang mengarah pada pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti anak. Di sini
jelas terlihat kaitan antara pendidikan seksualitas komprehensif dan gerakan
literasi yang mengarah pada pendidikan akhlak dan moral. Tidaklah salah apabila
literasi dijadikan sebagai sebuah basis oleh orang tua untuk memberikan
pendidikan seksualitas komprehensif dalam keluarga.
Orang
tua dalam hal ini tidak perlu berpikir jauh mengenai apa yang harus dilakukan
untuk memberikan pendidikan seksualitas komprehensif berbasis literasi bagi
anak. Orang tua hanya perlu menghadirkan bacaan-bacaan mengenai pendidikan
seksualitas komprehensif dan kemudian meluangkan waktunya untuk membaca buku
tersebut bersama anak. Namun, ada baiknya jika orang tua memfilter (dengan
membaca terlebih dahulu) bacaan yang akan dibaca bersama anak, sehingga bacaan
tersebut memang benar-benar berkaitan dengan pendidikan seksualitas
komprehensif. Di satu sisi, hal ini dimaksudkan agar pemahaman orang tua
mengenai pendidikan seksualitas komprehensif bertambah, sehingga dalam proses
baca bersama, orang tua bisa berperan menjadi guru yang baik bagi anak dengan
menjelaskan berbagai hal yang belum dimengerti oleh anak.
Ketika anak memperoleh kesempatan untuk
terlibat dalam kegiatan membaca bersama di dalam keluarga dan dibimbing oleh
orang tua, sudah tentu pengetahuannya mengenai pendidikan seksualitas akan
berkembang dengan baik. Hal ini disebabkan karena anak mengalami sebuah proses
pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan dari kedua orang tuanya. Selain itu, dalam
proses ini tentu bukan hanya pengetahuan seksualitas anak yang akan berkembang,
kemampuan membacanya pun turut berkembang, sebab secara tidak langsung hal ini
mengarahkan anak untuk mencintai kebiasaan membaca.
Perkembangan
kemampuan membaca akan mendorong anak untuk kemudian mengekspresikan apa yang
ia baca dalam bentuk tulisan. Di sini, orang tua dapat membimbing anak untuk
menulis berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan tubuh, perkembangan emosi,
hubungan sosial, dll yang dialami anak selama masa pertumbuhannya. Dengan demikian,
anak akan menemukan cara untuk mengekpresikan berbagai hal yang ia alami dan
terbiasa untuk merefleksikan pengalaman hidupnya. Maka dapat dikatakan bahwa
melalui pendidikan seksualitas komprehensif berbasis literasi, bukan saja
pemahaman seksualitas anak yang meningkat, tetapi kemampuan membaca dan menulis
anak pun akan berkembang. Lebih jauh, emosi dan perasaan anak pun bisa diekspresikan
serta kedekatan hubungan antara orang tua dan anak pun semakin hangat.
Dengan
demikian perlu disadari bahwa pendidikan seksualitas komprehensif harus terus digalakan,
dimulai dari dalam keluarga. Hal di atas hanyalah satu dari sekian banyak cara
yang dapat dilakukan oleh orang tua. Di sisi lain, langkah yang diambil oleh
Kemendikud dengan membentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga menunjukan
bahwa pemerintah secara pasti ingin menciptakan sebuah generasi masa depan yang
cerdas dan bermoral melalui pendidikan yang melibatkan orang tua, masyarakat
dan satuan pendidikan. Hal yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah membuka
diri terhadap segala terobosan Kemendikbud, membuang pola pikir bahwa anak
merupakan tanggung jawab guru dan kemudian terlibat aktif dalam proses
pendidikan anak. (*)
*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pendidikan Cakrawala NTT edisi 52
*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pendidikan Cakrawala NTT edisi 52

0 komentar:
Posting Komentar