Senin, 25 Juli 2016

PENDIDIKAN SEKSUALITAS KOMPREHENSIF BERBASIS LITERASI DALAM KELUARGA

Ilustrasi
Belakangan ini kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang sebagian besar masih berada di bawah umur merupakan salah satu kasus yang meningkat secara signifikan di negara ini. Kasus-kasus kekerasan yang terjadi menyita perhatian bahkan menimbulkan amarah serta kekecewaan publik. Di sisi lain, hal ini membuat publik seolah tersadar bahwa perempuan di negara ini tengah diacam oleh para pelaku yang tak bermoral. Mengapa tidak? Dalam tahun ini, Komnas Perempuan mencatat bahwa kasus kekerasan seksual terhadap perempuan merupakan kasus yang berada di peringkat kedua dari sekian banyak kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menyebutkan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia meningkat 100% dari tahun-tahun sebelumnya.

Publik pun kemudian dihantui oleh berbagai pertanyaan termasuk pertanyaan mengenai latar belakang terjadinya berbagai hal tersebut dan solusi tepat untuk mengatasinya. Ada beragam opini terhadap pertanyaan di atas. Sekretaris KPAI, Rita Pranawati misalnya, berpendapat bahwa rendahnya pendidikan seksualitas di kalangan keluarga menjadi faktor penyebab timbulnya berbagai kasus kekerasan seksual (Liputan6.com, 4/4/2016). Apa pun itu faktornya, yang pasti bahwa kekerasan seksual terhadap anak dan kaum perempuan tidak akan berhenti apabila hanya menjadi bahan perbincangan semata. Perlu ada tindakan nyata, baik itu dari keluarga, para tokoh masyarakat, pendidik, maupun pemerintah.

Pendidikan Seksualitas Komprehensif

Hingga kini sebagian besar orang tua di Indonesia masih melihat seksualitas sebagai hal yang tabu dan tidak layak untuk diperbincangkan. Anggapan ini menyebabkan orang tua menjauhkan anaknya dari berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan seksualitas komprehensif. Pola pikir ini juga secara tidak langsung menggiring orang tua untuk lebih cenderung memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan akademik anak ketimbang memperhatikan perkembangan emosi anak, karakter anak, hubungan sosial anak, pertumbuhan badan anak dan berbagai hal lainnya.

Merujuk pada hal di atas, perlu ada pemahaman bahwa pada dasarnya pendidikan seksualitas komprehensif berbeda dengan seks yang lebih menjurus pada hubungan badan antara pria dan wanita. Seksualitas komprehensif lebih berkaitan dengan aspek-aspek anatomis dan biologis serta aspek-aspek psikologis dan moral anak. Seksualitas komprehensif tidak hanya berhubungan dengan proses anak mengenal tubuh dan segala proses reproduktifnya, tetapi juga berkaitan dengan proses mengenal dan mengolah berbagai emosi yang ada dalam diri anak secara baik. Selain itu, pendidikan seksualitas komprehensif juga lebih memperhatikan unsur-unsur hak asasi manusia, nilai-nilai kebudayaan serta agama, sehingga pendidikan seksualitas tersebut mengarah pada pendidikan akhlak dan moral. Tujuannya ialah agar anak dapat diarahkan pada satu pemahaman mengenai penghargaan, bukan hanya penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi juga penghargaan terhadap diri orang lain.

Pendidikan Seksulitas Komprehensif Berbasis Literasi

Bertolak pada pemahaman mengenai pendidikan seksualitas komprehensif, orang tua harus mampu meninggalkan pola pikir kuno sebab pada hakikatnya pendidikan seksualitas komprehensif akan berlangsung di dalam keluarga apabila orang tua memiliki kesadaran akan pentingya hal tersebut bagi tumbuh kembang anak. Di sisi lain, hal ini dapat terlaksana apabila orang tua tidak menitipkan seluruh tanggung jawab dalam proses pendidikan anak di tangan para guru di sekolah. Orang tua perlu terlibat dalam proses pendidikan anak, termasuk pendidikan seksualitas dengan meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak, mendengarkan curhatan anak, memperhatikan pola pergaulan anak, dll.

Pendidikan seksualitas komprehensif dalam keluarga sebenarnya tidak hanya dapat dilakukan secara lisan oleh orang tua. Literasi (baca-tulis) merupakan salah satu dari sekian banyak cara yang dapat digunakan untuk memberikan pendidikan seksualitas bagi anak. Sebagaimana dikemukakan oleh Menteri Pendidikan Indonesia, Anies Baswedan, literasi merupakan sebuah gerakan yang mengarah pada pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti anak. Di sini jelas terlihat kaitan antara pendidikan seksualitas komprehensif dan gerakan literasi yang mengarah pada pendidikan akhlak dan moral. Tidaklah salah apabila literasi dijadikan sebagai sebuah basis oleh orang tua untuk memberikan pendidikan seksualitas komprehensif dalam keluarga.

Orang tua dalam hal ini tidak perlu berpikir jauh mengenai apa yang harus dilakukan untuk memberikan pendidikan seksualitas komprehensif berbasis literasi bagi anak. Orang tua hanya perlu menghadirkan bacaan-bacaan mengenai pendidikan seksualitas komprehensif dan kemudian meluangkan waktunya untuk membaca buku tersebut bersama anak. Namun, ada baiknya jika orang tua memfilter (dengan membaca terlebih dahulu) bacaan yang akan dibaca bersama anak, sehingga bacaan tersebut memang benar-benar berkaitan dengan pendidikan seksualitas komprehensif. Di satu sisi, hal ini dimaksudkan agar pemahaman orang tua mengenai pendidikan seksualitas komprehensif bertambah, sehingga dalam proses baca bersama, orang tua bisa berperan menjadi guru yang baik bagi anak dengan menjelaskan berbagai hal yang belum dimengerti oleh anak.

Ketika anak memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan membaca bersama di dalam keluarga dan dibimbing oleh orang tua, sudah tentu pengetahuannya mengenai pendidikan seksualitas akan berkembang dengan baik. Hal ini disebabkan karena anak mengalami sebuah proses pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan dari kedua orang tuanya. Selain itu, dalam proses ini tentu bukan hanya pengetahuan seksualitas anak yang akan berkembang, kemampuan membacanya pun turut berkembang, sebab secara tidak langsung hal ini mengarahkan anak untuk mencintai kebiasaan membaca.

Perkembangan kemampuan membaca akan mendorong anak untuk kemudian mengekspresikan apa yang ia baca dalam bentuk tulisan. Di sini, orang tua dapat membimbing anak untuk menulis berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan tubuh, perkembangan emosi, hubungan sosial, dll yang dialami anak selama masa pertumbuhannya. Dengan demikian, anak akan menemukan cara untuk mengekpresikan berbagai hal yang ia alami dan terbiasa untuk merefleksikan pengalaman hidupnya. Maka dapat dikatakan bahwa melalui pendidikan seksualitas komprehensif berbasis literasi, bukan saja pemahaman seksualitas anak yang meningkat, tetapi kemampuan membaca dan menulis anak pun akan berkembang. Lebih jauh, emosi dan perasaan anak pun bisa diekspresikan serta kedekatan hubungan antara orang tua dan anak pun semakin hangat.

Dengan demikian perlu disadari bahwa pendidikan seksualitas komprehensif harus terus digalakan, dimulai dari dalam keluarga. Hal di atas hanyalah satu dari sekian banyak cara yang dapat dilakukan oleh orang tua. Di sisi lain, langkah yang diambil oleh Kemendikud dengan membentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga menunjukan bahwa pemerintah secara pasti ingin menciptakan sebuah generasi masa depan yang cerdas dan bermoral melalui pendidikan yang melibatkan orang tua, masyarakat dan satuan pendidikan. Hal yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah membuka diri terhadap segala terobosan Kemendikbud, membuang pola pikir bahwa anak merupakan tanggung jawab guru dan kemudian terlibat aktif dalam proses pendidikan anak. (*)

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pendidikan Cakrawala NTT edisi 52
Share:  

0 komentar:

Posting Komentar