Pukul 16.30.
Saat itu hari bertanggal 30 dan berbulan Mei. Ketika senja belum merona dan
malam belum pekat, dunia disapanya dengan tangisan yang melengking indah,
persis seperti suara ibunya, merdu, menggoda hati. Di sebuah lembah berjarak
beberapa kilometer dari negara tentangga, Timor Leste, ia melantunkan nada
kehidupan, saat kopi pahit ayahnya belum kosong dari gelas lantaran menemani
ibunya menanti.
Menahan
sakit, ibunya menggendong dia. Sembari tersenyum, bayi mungil itu lantas
diberikan kepada sang ayah yang spontan membisikan untaian doa Bapa Kami dan
Salam Maria ke telinga mungilnya. Ia terhenti dari tangisnya ketika bisikan doa
ayahnya sayup-sayup terdengar.
Gisela
Vanessa Elani Kolo namanya. Terinspirasi dari sang ratu Hungaria, ibu dari
Santo Emerik, nama Gisela diberikan sang ayah kepadanya dengan sebuah mimpi
besar agar kelak ia menjadi seorang pemimpin tangguh yang mampu memimpin dengan
kecerdasan dan kemurnian hati. Seorang pemimpin yang elok parasnya seperti
kupu-kupu. Itulah sebabnya, Vanessa melekat di belakang nama panggilannya,
Gisela. Elani yang bermakna cahaya kemudian mengandung harapan agar ia menjadi
cahaya bagi keluarganya, keluarga Kolosain.
Namun, tentu
dalam buaian tangis dan tawanya, ayah ada ibu hanya dapat berharap sembari berjuang
menggapai mimpi yang terpatri di balik namanya. Dunia telah disapanya, pagi
telah disambut dan malam telah dinanti, maka biarlah kehidupan ini dijalani
olehnya dengan impian dan mimpinya akan dunia ini. Entah apa pun itu nantinya, Sang Pemilik kehidupannlah yang menjadi
nahkodanya. Untaian doa yang dibisikan di telingannya senja itu biarlah terus
terngiang di telingannya di tengah bisingnnya dunia ini. Dalam untaian nada doa
itu, Sang Kuasa senantiasa merengkuhnya dalam sayap kasih yang tak pernah
patah.
0 komentar:
Posting Komentar