Jumat, 22 Juli 2016

SEPENGGAL KISAH ANTARA KITA

Waktu telah mengalahkan segala-galanya, merengkuh segala sesuatu dan menariknya berputar bersamanya. Ia membawa segala sesuatu pada sebuah pergerakan, membuatnya tak lekang oleh apa pun dan mentahtahkan dirinya pada suatu singgasana dimana segala hal yang bernaung di bawah sayap bumi ini bergantung padanya.  Tak ada yang  mampu melawannya atau bahkan mencoba untuk menghentikan setiap detail pergerakannya. Mungkin hanya keabadian yang mampu mengalahkannya.

Waktu berbeda untuk setiap orang. Bagi para petani waktu adalah suatu perlombaan dasyat antara mereka dan alam, antara perjuangan membaca alam yang telah larut dalam perputarannya dengan tetesan keringat yang membanjir karena asa untuk mencapai hasil panen yang memuaskan. Bagi para tentara yang berjuang di medan pertempuran, waktu adalah napas antara ada dan tiada. Waktu membawa mereka pada suatu putaran hidup antara mengambil napas dan menghebuskan napas di medan laga, antara darah dan peluh. Waktu bagi mereka yang menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa adalah perjuangan untuk memerdekakan anak-anak negeri dari penjajah kelas wahid yang bernama kebodohan. Waktu adalah saat dimana ilmu itu diejawantahkan diantara gumpalan debu kapur tulis, amarah, kasih sayang, belas kasih dan kerinduan akan suatu mimpi, akan  apa yang dinamakan kesuksesan bagi anak didik.

Bagi para pelajar waktu adalah perjuangan  menggapai mimpi, meraih bintang, mengejar cita. Waktu adalah pergumulan antara ego manusiawi dan tuntutan untuk belajar, perkelahian antara keinginan untuk berleha-leha dengan tangan yang beradu di atas kertas atau pun kerja keras sel-sel otak yang merespons kerja mata yang tengah menatap lembaran-lembaran kata tentang ilmu pengetahuan. Pertikaian antara  Rasa dan napsu adalah  waktu bagi mereka yang sedang bercinta. Bagi mereka, waktu adalah saat dimana hati berbunga-bunga, kata-kata berirama dalam tatapan lembut penuh cinta dan gejolak antara hati dan pikiran yang sulit dimengerti oleh mereka sendiri. Waktu bagi mereka yang tanpa asa adalah pergolakan untuk menghentikan waktu itu sendiri, perjuangan untuk membebaskan diri dari selimut nasib dan usaha penarikan diri dari perputarannya.

Tetapi bagi kebanyakan orang waktu adalah uang. Waktu begitu berharga dan bernilai sehingga diidentikan dengan uang. Waktu seolah membuat segala sesuatu terjadi di dalamnya, sebegitu dekat dengan uang yang memungkinkan segala sesuatu bisa terjadi karenanya. Antara waktu dan uang...

Di dalam kerangkeng  yang sempit dan gelap ini, waktulah yang paling berkuasa atas diriku. Setiap Detaknya seolah meneriakan ejekan untuk diriku yang telah terlarut dalam setiap putarannya. Setiap derap langkah jarumnya seolah meratapi kekalahan antara dirku dengan uang yang sering kali diidentikan dengannya. Aku seolah sebutir gula yang berputar cepat dan kemudian mau tak mau harus terlarut dalam air yang diputar cepat dalam sebuah gelas kaca. Ia adalah raja tak terkalahkan di rungan sempit ini. Sementara aku hanyalah hamba yang patuh padanya, yang sesekali berharap agar ia mengantarkanku pada sebuah kebebasan seperti dahulu, kebebasaan dimana ia pun mampu kutundukan dengan kekuasaanku. Waktu pulalah yang menjadi saksi bisu setiap ratapanku di sudut kerangkeng kelam ini. Ia juga yang menjawab setiap tetes air mataku dengan suatu kepastiaan akan kenyataan bahwa aku  memang seorang yang telah kalah oleh uang. Diantara detaknya yang pasti sang penguasa tunggal, raja yang tak terkalahkan, saksi bisu tanpa kata itu berteriak padaku: “Kau  koruptor busuk!!!”.

Waktu kini memutar balikanku pada suatu periode, pada satu masa ketika rasa haus akan uang merongrong setiap inci hidupku, suatu periode silam ketika aku melakoni peranku sebagai sesosok manusia tak bermoral, seorang tanpa hati yang hanya diracuni oleh kedurhakaan dan ketamakan. Waktu menciptakan satu lorong panjang yang aku lewati dahulu ketika hati, pikiran, kata bahkan setiap tetes darahku pun seolah telah dikuasai oleh apa yang dinamakan uang. 

Berbeda dengan waktu, uang justru menjadi penguasa antagonis yang bisa saja menyeret manusia menjadi penjahat sekali pun dia adalah seorang beragama; pencuri sekali pun ia membaca Kitab Suci setiap hari; pembohong walaupun ia adalah seorang pencari kebenaran; perusuh sekali pun ia adalah pencinta damai; pelit walaupun ia dermawan; pendendam walaupun ia adalah seorang pencinta cinta. Sang antagonis ini menciptakan satu sensasi yang membuat mataku pun gelap dan hatiku pun tak berdaya. Uang menjadikan aku budaknya dan dengan sukses menjadikanku seorang koruptor sukses, seorang koruptor yang sukses masuk bui dan kembali menjadi hamba tak berdaya, penghitung detik demi detik pergerakan waktu.

Dahulu ketika uang membutakan mataku, aku mencuri dari kepunyaan orang lain, aku mengambil kepunyaan rakyat yang tak punya dan menjadikan semuanya kepunyaanku. Istri, anak dan keluargaku berfoya-foya di atas uang kepunyaan orang, padahal ada sejuta orang menderita karena berkekurangan. Aku membangun sebuah keluarga kaya dengan cara instan, bahkan aku turut membentuk karakter instan pada diri anak-anakku. Aku mengendarai mobil mewah dan memandang rendah orang-orang yang berjalan kaki di jalanan padahal dari orang-orang seperti itulah aku mencuri. Aku mendiami rumah mewah dan tidak memikirkan orang-orang yang tinggal di gubuk beralas tanah yang banjir setiap kali turun hujan, padahal dari suara merekalah aku menjadi seperti ini. Aku mengutak-atik handphone milik ku dan tertawa sinis melihat mereka yang tidak memiliki apa-apa padahal aku membeli dari uang mereka. Tanpa keringat yang bercucuran aku malah berleha-leha dan menikmati tetesan keringat mereka yang berjuang untuk kehidupan.

Namun, waktu kini telah menjawab semuanya. Di antara detaknya aku menemukan bahwa kekayaan instan yang aku dapatkan telah runtuh tak berbekas. Antara detaknya, suatu kenyataan bahwa keluargaku telah menjadi orang-orang terkucil yang setiap hari menjadi bahan bisikan semua orang “itu keluarga koruptor” ku dapat. Atara detaknya segala hal yang aku miliki hilang sirna, aku sendiri sukses menjadi penghuni ruangan sempit, gelap, pengap dan busuk yang dirajai oleh waktu, sang penjawab kepastian.

Putaran sang penguasa di ruangan kelam ini mengantarkan aku pada kesadaran bahwa uang bisa membeli segala hal yang aku inginkan, tetapi tidak dapat membeli kebahagiaan. Uang bisa membeli rumah, tetapi tidak dapat membeli kenyamanan. Uang bisa membeli makanan tetapi tidak dapat membeli kenikmatan makanan itu. Uang bisa membeli segalanya tetapi tidak bisa membeli kehidupan.

Sang penguasa itu terus berputar tanpa henti dan hidupku telah berlanjut dalam kekelaman. Di dalam kekelaman ini, aku hanya ingin agar tak ada lagi orang pintar yang menjadi bodoh karena uang, lalu mencoba untuk melakukan hal bodoh yang dirasa pintar, sama seperti yang aku lakukan. Aku hanya ingin agar tak ada lagi yang menjadi koruptor di negeri tumpah darah ini. Kawan, menjadi koruptor hanya mengantarkan hidupmu pada suatu titik antara. Antara tertangkap atau tidak, antara menjadi tahanan atau orang munafik, antara kaya mendadak atau miskin mendadak, antara sombong atau malu. Kalaupun antaramu di dunia ini tidak kau rasakan kawan, masih ada antara yang akan kau dapatkan di kehidupan sesudah ini, yakni antara surga atau neraka. Ingatlah kawan, tupai yang pandai melompat pun pasti akan jatuh!! (*)
Share:  

0 komentar:

Posting Komentar