Waktu telah mengalahkan segala-galanya, merengkuh segala
sesuatu dan menariknya berputar bersamanya. Ia membawa segala sesuatu pada sebuah
pergerakan, membuatnya tak lekang oleh apa pun dan mentahtahkan dirinya pada
suatu singgasana dimana segala hal yang bernaung di bawah sayap bumi ini
bergantung padanya. Tak ada yang mampu melawannya atau bahkan mencoba untuk
menghentikan setiap detail pergerakannya. Mungkin hanya keabadian yang mampu
mengalahkannya.
Waktu berbeda untuk setiap orang. Bagi para petani waktu adalah
suatu perlombaan dasyat antara mereka dan alam, antara perjuangan membaca alam
yang telah larut dalam perputarannya dengan tetesan keringat yang membanjir
karena asa untuk mencapai hasil panen yang memuaskan. Bagi para tentara yang
berjuang di medan pertempuran, waktu adalah napas antara ada dan tiada. Waktu membawa
mereka pada suatu putaran hidup antara mengambil napas dan menghebuskan napas
di medan laga, antara darah dan peluh. Waktu bagi mereka yang menyandang gelar
pahlawan tanpa tanda jasa adalah perjuangan untuk memerdekakan anak-anak negeri
dari penjajah kelas wahid yang bernama kebodohan. Waktu adalah saat dimana ilmu
itu diejawantahkan diantara gumpalan debu kapur tulis, amarah, kasih sayang,
belas kasih dan kerinduan akan suatu mimpi, akan apa yang dinamakan kesuksesan bagi anak
didik.
Bagi para pelajar waktu adalah perjuangan menggapai mimpi, meraih bintang, mengejar
cita. Waktu adalah pergumulan antara ego manusiawi dan tuntutan untuk belajar,
perkelahian antara keinginan untuk berleha-leha dengan tangan yang beradu di
atas kertas atau pun kerja keras sel-sel otak yang merespons kerja mata yang
tengah menatap lembaran-lembaran kata tentang ilmu pengetahuan. Pertikaian
antara Rasa dan napsu adalah waktu bagi mereka yang sedang bercinta. Bagi
mereka, waktu adalah saat dimana hati berbunga-bunga, kata-kata berirama dalam
tatapan lembut penuh cinta dan gejolak antara hati dan pikiran yang sulit
dimengerti oleh mereka sendiri. Waktu bagi mereka yang tanpa asa adalah
pergolakan untuk menghentikan waktu itu sendiri, perjuangan untuk membebaskan
diri dari selimut nasib dan usaha penarikan diri dari perputarannya.
Tetapi bagi kebanyakan orang waktu adalah uang. Waktu begitu
berharga dan bernilai sehingga diidentikan dengan uang. Waktu seolah membuat
segala sesuatu terjadi di dalamnya, sebegitu dekat dengan uang yang
memungkinkan segala sesuatu bisa terjadi karenanya. Antara waktu dan uang...
Di dalam kerangkeng yang sempit dan gelap ini, waktulah yang
paling berkuasa atas diriku. Setiap
Detaknya seolah meneriakan ejekan untuk diriku yang telah terlarut dalam setiap
putarannya. Setiap derap langkah jarumnya seolah meratapi kekalahan antara
dirku dengan uang yang sering kali diidentikan dengannya. Aku seolah sebutir
gula yang berputar cepat dan kemudian mau tak mau harus terlarut dalam air yang
diputar cepat dalam sebuah gelas kaca. Ia adalah raja tak terkalahkan di rungan
sempit ini. Sementara aku hanyalah hamba yang patuh padanya, yang sesekali berharap
agar ia mengantarkanku pada sebuah kebebasan seperti dahulu, kebebasaan dimana
ia pun mampu kutundukan dengan kekuasaanku. Waktu pulalah yang menjadi saksi
bisu setiap ratapanku di sudut kerangkeng kelam ini. Ia juga yang menjawab
setiap tetes air mataku dengan suatu kepastiaan akan kenyataan bahwa aku memang seorang yang telah kalah oleh uang.
Diantara detaknya yang pasti sang penguasa tunggal, raja yang tak terkalahkan,
saksi bisu tanpa kata itu berteriak padaku: “Kau koruptor busuk!!!”.
Waktu kini memutar balikanku pada suatu periode, pada satu
masa ketika rasa haus akan uang merongrong setiap inci hidupku, suatu periode silam
ketika aku melakoni peranku sebagai sesosok manusia tak bermoral, seorang tanpa
hati yang hanya diracuni oleh kedurhakaan dan ketamakan. Waktu menciptakan satu
lorong panjang yang aku lewati dahulu ketika hati, pikiran, kata bahkan setiap
tetes darahku pun seolah telah dikuasai oleh apa yang dinamakan
uang.
Berbeda dengan waktu, uang justru menjadi penguasa antagonis yang bisa
saja menyeret manusia menjadi penjahat sekali pun dia adalah seorang beragama;
pencuri sekali pun ia membaca Kitab Suci setiap hari; pembohong walaupun ia adalah
seorang pencari kebenaran; perusuh sekali pun ia adalah pencinta damai; pelit
walaupun ia dermawan; pendendam walaupun ia adalah seorang pencinta cinta. Sang
antagonis ini menciptakan satu sensasi yang membuat mataku pun gelap dan hatiku
pun tak berdaya. Uang menjadikan aku budaknya dan dengan sukses menjadikanku
seorang koruptor sukses, seorang koruptor yang sukses masuk bui dan kembali
menjadi hamba tak berdaya, penghitung detik demi detik pergerakan waktu.
Dahulu ketika uang membutakan
mataku, aku mencuri dari kepunyaan orang lain, aku mengambil kepunyaan rakyat
yang tak punya dan menjadikan semuanya kepunyaanku. Istri, anak dan keluargaku
berfoya-foya di atas uang kepunyaan orang, padahal ada sejuta orang menderita
karena berkekurangan. Aku membangun sebuah keluarga kaya dengan cara instan,
bahkan aku turut membentuk karakter instan pada diri anak-anakku. Aku
mengendarai mobil mewah dan memandang rendah orang-orang yang berjalan kaki di
jalanan padahal dari orang-orang seperti itulah aku mencuri. Aku mendiami rumah
mewah dan tidak memikirkan orang-orang yang tinggal di gubuk beralas tanah yang
banjir setiap kali turun hujan, padahal dari suara merekalah aku menjadi seperti
ini. Aku mengutak-atik handphone milik ku dan tertawa sinis melihat mereka yang
tidak memiliki apa-apa padahal aku membeli dari uang mereka. Tanpa keringat
yang bercucuran aku malah berleha-leha dan menikmati tetesan keringat mereka
yang berjuang untuk kehidupan.
Namun, waktu kini telah menjawab
semuanya. Di antara detaknya aku menemukan bahwa kekayaan instan yang aku dapatkan
telah runtuh tak berbekas. Antara detaknya, suatu kenyataan bahwa keluargaku
telah menjadi orang-orang terkucil yang setiap hari menjadi bahan bisikan semua
orang “itu keluarga koruptor” ku dapat. Atara detaknya segala hal yang aku
miliki hilang sirna, aku sendiri sukses menjadi penghuni ruangan sempit, gelap,
pengap dan busuk yang dirajai oleh waktu, sang penjawab kepastian.
Putaran sang penguasa di ruangan
kelam ini mengantarkan aku pada kesadaran bahwa uang bisa membeli segala hal
yang aku inginkan, tetapi tidak dapat membeli kebahagiaan. Uang bisa membeli
rumah, tetapi tidak dapat membeli kenyamanan. Uang bisa membeli makanan tetapi
tidak dapat membeli kenikmatan makanan itu. Uang bisa membeli segalanya tetapi
tidak bisa membeli kehidupan.
Sang penguasa itu terus berputar
tanpa henti dan hidupku telah berlanjut dalam kekelaman. Di dalam kekelaman ini, aku hanya ingin agar tak ada lagi
orang pintar yang menjadi bodoh karena uang, lalu mencoba untuk melakukan hal
bodoh yang dirasa pintar, sama seperti yang
aku lakukan. Aku hanya ingin agar tak ada lagi yang menjadi koruptor di negeri
tumpah darah ini. Kawan, menjadi koruptor hanya mengantarkan hidupmu pada suatu
titik antara. Antara tertangkap atau tidak, antara
menjadi tahanan atau orang munafik, antara kaya mendadak atau miskin mendadak,
antara sombong atau malu. Kalaupun antaramu di dunia ini tidak kau rasakan kawan,
masih ada antara yang akan kau dapatkan di kehidupan sesudah ini, yakni antara surga atau neraka. Ingatlah kawan, tupai yang
pandai melompat pun pasti akan jatuh!! (*)

0 komentar:
Posting Komentar